Konstruksi Realitas Nilai-Nilai ASWAJA dalam Film Sang Kyai
Abstract
Melihat kondisi bangsa Indonesia ini seakan lebih buruk dari pada zaman penjajahan. Kini bangsa Indonesia kembali dijajah, bukan dengan senjata atau nuklir namun dijajah karena kebodohan yang dimiliki bangsa ini. Bodoh karena selalu memperdebatkan perbedaan dan berdampak pada perpecahan. Bodoh karena lebih mengutamakan harta kekayaan dari pada ilmu, sehingga yang terjadi adalah persaingan bisnis yang memanas yang kemudian berdampak pada kerusakan alam. Bodoh pula karena lebih mencintai atau menggemari budaya luar, dari pada menjunjung tinggi budaya bangsa. Sehingga kemudian tidak aneh ketika anak remaja lebih mengenal girlband atau boyband dari pada pahlawan bangsa, bahkan mengingat gurunya. Bahkan lagu-lagu warisan budaya yang serat akan nilai moral kalah pamor dengan lagu-lagu barat dan korea yang selalu menghiasi panggung hiburan tanah air kita.
Film ini bukan hanya sekedar film, namun benar-benar sejarah bangsa Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. “Sang Kiai” adalah saksi sejarah untuk refleksi pendidikan Indonesia. Keistimewaan pada sosok Kiai menjadikan sebuah cermin yang berharga bagi para pendidik di zaman sekarang. Karena sekarang ini banyak guru yang tidak bisa menghargai muridnya, dan banyak pula murid yang tidak menghormati gurunya. Padahal keduanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena terjadinya transformasi keilmuan selalu membutuhkan peran keduanya.
References
Hamka, 2011, Pedoman Materi Workshop Broadcast, Jember: STAIN Jember.
Bungin Burhan, 2009, Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Kencana
Sobur Alex, 2006, Analisis Teks Media : Suatu Pengantar untuk analisis Wacana, Analisis Semiotika, dan Analisis Framing, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Fiske John, 2010, Cultural And Communication Studies. Terj. Drs. Yosal Iriantara & Idy Subandi, Yogyakarta: Jalasutra.
Irwansyah Ade, 2009, Seandainya saya Kritikus Film, Yogyakarta: CV Humorian Pustaka
Siagian Gayus, 2006, Menilai Film, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta
Imanjaya Ekky, 2006, A-Z About Film Indonesia, Bandung: Mizan
Chalim Asep Saifuddin, 2012, Membumikan Aswaja, Surabaya: Khalista
Muhyiddin Abdussomad, 2005, Fiqih tradisional, Surabaya: Khalista
Syamsul Abdullah Arifin, 2013, Santri menjawab tuduhan bid’ah, Jember: Pena Salsabila
Wuryantoyo, dkk, 2004, Materi dasar Nahdlatul Ulama’ Ahlussunnah Waljamaah, Jepara: Pimp. Cabang LPM NU
Abdul Aziz Aceng Dy, dkk, 2007, Islam Ahlussunnah waljamaah di Indonesia, Jakarta: Pustaka ma’arif NU
Shiddiq Achmad, 2005, Khittah Nahdliyyah, Surabaya; Khalista
Hoed Benny, 2011, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya Jakarta: Komunitas Bambu.
TInarbuko Sumbo, 2008, Semiotika Komunikasi Visual Yogyakarta: Jalasutra
Jumroni, 2006, Metode-metode Penelitian Komunikasi, Jakarta: UIN Jakarta Press
Pena Tim Prima, Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap, Surabaya: Gitamedia Press
Budiman Kris, 2004, Semiotik Visual Yogyakarta: Penerbit Buku Baik
www.id.wikipedia.org/wiki/kajian-semiotik (diakses pada november 2014)
Christony. T dan untung yuwono (ed), semiotika budaya (Depok pusat penelitian kemasyarakatan dan direktorat riset pengabdian masyarakat Universitas Indonesia 2004), h 83-84
http://alfandienk.blogspot.com/2011/11/landasan-dan-prinsip-dasar-Ahlussunnah Wal Jamaah-dalam.html (diakses pada 18 Desember 2014)